SYAIR atau MELODI

AJ Tjahjoanggoro

 

Dalam suasana menjelang perayaan Natal, para aktivis koor (anggota, dirigen, organis) yang bertugas biasanya sibuk berlatih untuk menguasai lagu-lagu Misa Natal yang sudah dipilih sesuai dengan makna liturgi. Tak terkecuali pada Misa Minggu Biasa atau Hari Raya, para aktivis koor juga berupaya maksimal untuk menguasai lagu-lagu Misa dengan sebaik-baiknya.

Tak jarang pula mengingat lagu ‘spesial’ (baru dan tingkat kesulitan cukup tinggi) yang dipilih cukup banyak atau belum dikuasai penuh oleh anggota koor karena kemampuan yang relatif terbatas, sedangkan waktu latihan dan jadwal tugas sudah mendesak, para aktivis koor berjuang berlatih mati-matian sampai bisa. Apa boleh buat, apapun hasil latihannya para aktivis koor berusaha menyanyikan lagu tersebut dengan sebaik-baiknya.

Syukur, minimal jika ketika menyanyikan lagu pada saat Misa tidak salah atau bahkan lebih baik daripada latihannya. Sebaliknya, tidak dapat dipungkiri pula, bila latihannya pas-pasan, para aktivis koor akhirnya kurang merasa puas karena pada saat menyanyikan lagu Misa kurang percaya diri dan pesimis sehingga mutu vokal menurun dibandingkan pada saat latihan koor. Akibatnya, suasana Misa menjadi kurang khidmat dan agung.

Hikmah di balik pasang-surut perjuangan para aktivis koor untuk menyanyikan lagu Misa pada hakikatnya hanya dua kunci utama, yakni menguasai syair dan melodi. Mana yang lebih diutamakan: menguasai syair atau melodi dulu? Spontan setiap aktivis koor biasanya pasti menjawab menguasai melodi dulu karena kunci pokok lagu ada pada melodinya sedangkan syair relatif jauh lebih mudah untuk dikuasai apalagi hanya dalam bahasa Indonesia.

Reaksi spontan semacam itu wajar dan manusiawi. Lagu memang terutama digubah dengan alunan melodi sehingga dikatakan sebagai ‘nyanyian’. Sementara syair (puisi) yang dilantunkan biasanya disebut deklamasi. Jadi, pada prinsipnya menyanyikan lagu berarti melantunkan melodi seperti instrumentalia (musik tanpa kata/syair). Lalu, bagaimana menyanyikan lagu dengan melodi dan syair? Jika melodi lebih penting daripada syair lagu, apakah berarti makna syair lagu gereja yang dilandasi dengan makna biblis dan teologis bisa diabaikan?

Memang unsur melodi pada lagu juga memiliki makna suara surgawi yang sama penting dengan isi dan makna syair lagu yang didaraskan. Bukan menguasai melodi dulu lalu syairnya, atau sebaliknya. Namun baik melodi dan syair sama-sama penting. Persoalannya, secara tidak disadari para aktivis koor dihinggapi ilusi atau mitos (persepsi yang salah) bahwa melodi lagu adalah segala-galanya. Akibatnya, lagu yang dipilih biasanya melodinya indah dan iramanya hidup. Padahal lagu yang mungkin dinilai kurang ‘enak’ melodinya bukan karena terutama komposisi lagu yang kurang berbobot namun cara membawakan lagu yang kurang tepat.

Perlu diingat, memilih lagu Misa bukan soal selera dan sekedar ‘hiburan’ namun terpenting dan terutama adalah mendalami dan menghayati makna liturgi pada setiap lagu minimal yang sudah diakui gereja katolik (misal Puji Syukur atau Madah Bakti). Melodi dan syair lagu liturgi merupakan dua sejoli yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan padu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan hanya bagi kemuliaan Allah.

Berlatih lagu Misa seyogyanya bukan sekedar kejar tayang dan unjuk gigi namun menguasai lagu sederhana sekalipun (sering dan biasa dinyanyikan) yang sesuai dengan makna dan masa liturgi, serta dipadukan dengan syair lagu sehingga menjadi ‘doa’ yang semerbak harum mewangi meski dengan hati remuk redam. Konkritnya secara praktis, setiap melatih melodi lagu seyogyanya disisipkan pula latihan pengucapan dan penghayatan syair sekaligus sebagai renungan dan santapan rohani. Dengan demikian para aktivis koor tidak sekedar dibekali keterampilan teknik musikal/vokal namun juga spiritualitas hidup rohani yang bersumber dari lagu liturgi.

Hal menakjubkan yang dapat kita renungkan bersama. Lagu Malam Kudus yang syairnya digubah oleh Joseph Mohr (imam) pada tahun 1816 di Austria. Lalu, melodinya digubah oleh Franz Xaver Gruber dengan menggunakan gitar karena organ di kapel rusak. Dinyanyikan pertama kali di kapel Nikholas-Kirche, Oberndorf Austria pada tanggal 24 Desember 1818. Dipopulerkan oleh John Freeman Young (uskup kedua Florida) pada tahun 1859 dengan menerjemahkan syair lagu dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris yang kita nyanyikan hingga kini dengan terjemahan bahasa Indonesia.

Senandung lagu Malam Kudus yang syahdu dan menyejukkan hati digubah dengan alunan melodi dan untaian syair yang sangat sederhana namun penuh makna surgawi. Sungguh mempesona dan hingga kini lagu Malam Kudus dikumandangkan oleh segenap umat kristiani di seluruh penjuru dunia. Semua terkesima dan terhipnotis oleh lagu Malam Kudus lantaran melodi dan syair surgawi.

Selamat menyambut bayi kudus Yesus Sang Juru Selamat dalam dekapan hangat penuh kasih bunda Maria dan bapa Yosef dengan senandung hati yang sunyi nan suci. Salam Bahagia Natal dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2011. Rahmat dan kasih Tuhan melimpah bagi kita semua. Amin.

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Musik Liturgi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s