BILA ‘MENDADAK MENJADI DIRIGEN’.

Anton Teguh

Sudah kesekian kali saya mendadak menjadi dirigen umat dalam misa kudus di gereja paroki saya. Itu terjadi di hari Sabtu sore atau Minggu sore saat tidak ada kor yang bertugas. Meskipun kadang-kadang mengomeli diri sendiri karena ‘berada pada waktu yang tidak tepat’ saya toh tidak dapat menolak tugas mulia ini. Apalagi, seperti biasanya, Pak Lukas, koster gereja paroki saya itu sudah mencegat saya sambil memohon-mohon. Melihat mimik wajahnya yang memelas, saya tidak kuasa menolaknya.
Mengapa tidak ada dirigen ? Itulah pertanyaan saya kepada Pak Lukas. Jawabannya bermacam-macam. “Dirigennya tidak datang karena sakit…” atau “Tadi baru saja telepon anaknya rewel”, atau “Hujan…” dan sebagainya. Apapun alasannya tetap saya terima. Entah mengapa kadang-kadang ketiadaan dirigen juga berarti ketiadaan organis. Atau kalau ada organis gantian organnya yang ‘ngadat’. Jadi dua-tiga kali saya bertugas ‘mendadak menjadi dirigen’ tanpa bantuan organis. Jadinya ‘garingan’.
Persiapan Batin
Karena datang lebih awal, saya biasanya mengawali dengan menenangkan diri sebelum semua kegiatan lain. Itu saya anggap perlu karena mendapatkan tugas mendadak pasti membuat batin tidak tenang. Yang bisa dilakukan dalam waktu pendek adalah ‘duduk tenang dan berdoa’. Sambil menata napas, proses penenangan diri berlangsung tiga sampai lima menit .
Menyiapkan Nyanyian.
Segera setelah batin tenang, saya mulai memilih lagu. Cara kilat yang biasa saya pakai adalah menanyakan kepada ‘bawah sadar’ apakah nyanyian yang pas. Pas buat saya dan pas untuk umat yang hadir. Biasanya, lewat proses ‘self hypnosis ‘ ini ‘bawah sadar’ akan ‘menjawab’ nyanyian apa saja yang perlu dinyanyikan. Tentu saja, nyanyian yang dibawakan sesuai dengan kalender liturgi yang berlaku.
Nyanyian yang pertama saya siapkan adalah lagu pembukaan dan lagu-lagu ‘ordinarium’. Pasalnya nyanyian tersebut akan dinyanyikan di awal misa kudus. Sementara-lagu-lagu lainnya bisa disiapkan ‘sambil jalan’.
Tidak boleh ditinggalkan adalah menyiapkan mazmur tanggapan. Paling tidak menyanyikan refrennya saja yang harus dikuasai secara singkat. Apabila pemazmurnya juga tidak bertugas – dan ini pernah terjadi- saya pun merangkap menjadi pemazmur. Maka, mau tidak mau selain refren, ayat-ayat mazmur pun harus dikuasai dengan cepat.
Tidak seluruh hal mendadak mengagetkan. Kadang-kadang saya beruntung. Itu terjadi bila organis telah pula menyiapkan nyanyian hasil rundingannya dengan dirigen yang batal bertugas. Untuk kasus demikian, biasanya saya hanya menyesuaikan beberapa lagu untuk diganti.

Berunding dengan Organis
Bila organis sudah kita kenal dan terbiasa bersama-sama bertugas, akan mudah bagi kita untuk menyatukan ‘chemistry’ satu sama lain. Tetapi bilamana tidak biasa, waktu yang sempit harus dimanfaatkan untuk berunding dengan tenang. Terlebih apabila beberapa nyanyian yang saya tawarkan tidak disetujui oleh organis. Untuk itu biasanya saya mengalah dengan menyilahkan organis memilihkan lagu.
Kalau waktu masih memungkinkan, saya akan berunding hal ‘intro’. Karena tanpa persiapkan, maka biasanya saya meminta intro sederhana untuk semua lagu. Intro sederhana yang saya maksud adalah :
1. Membunyikan 8 birama awalan sebuah nyanyian. Atau gabungan antara 4 birama awalan lagu dan 4 birama akhir lagu.
2. Intro harus diakhiri dengan ‘do’ untuk lagu ‘mayor’ dan ‘la’ untuk lagu ‘minor’.
Bila Tanpa Organis
Bagaimana bila mendadak dirigen tanpa bantuan organis alias ‘garingan’ ? Hal pertama yang biasa saya lakukan adalah mencari nada dasar sendiri. Cara yang paling mudah adalah mencari nada tertinggi dan terendah dalam nyanyian yang akan dinyanyikan. Dengan cara ‘humming’ atau ‘mendengung’ nyanyian tersebut saya coba ‘sesaat sebelum’ lagu tersebut dinyanyikan.
Menjadikan Umat ‘Kor Besar’
Karena tidak ada kor, maka umat perlu dilibatkan menjadi sebuah ‘paduan suara besar’. Maka pilihan lagu sangat menentukan. Lagu-lagu yang dipilih hendaknya yang mudah dan dikuasai umat yang hadir dalam misa kudus. Kemudian menyanyikannya dengan seindah-indahnya agar umat ikut berpartisipasi. Bilamana umat berpartisipasi maka sebuah ‘kor besar’ akan terjadilah.
Akhirnya, bila misa kudus usai pantaslah kita bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam perayaan ekaristi. Juga karena ‘mendadak menjadi dirigen’ sudah usai. Meskipun tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi, tidak lupa menyisipkan doa dan harapan agar di kemudian hari teman-teman dirigen yang bertugas tidak absen.
Selamat Natal 2010 dan Tahun Baru 2011.

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Conducting. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s