MISA KUDUS di SUATU HARI MINGGU

Oleh : Anton Teguh

Pada suatu hari Minggu di sebuah gereja, menjelang misa . Anak-anak berlarian menuju ke dalam gereja. Para Ayah dan ibunya menyusul. Terburu-buru. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.58. Dua menit lagi misa kudus dimulai. Sementara itu kor sudah siap di tempatnya. Juga organis, yang masih sibuk melihat partitur. Sedangkan di sakristi, romo dan para ‘asisten imam’ serta misdinar telah siap menuju panti imam. Meskipun kor sudah di tempatnya, tampak sesekali beberapa dari mereka mengobrol satu sama lain. Anggota yang lain terlihat membuka-buka teks partitur. Ada pula yang duduk dengan tenang. Demikian pula dengan dirigennya. Minggu pagi itu adalah masa biasa.

Pembukaan, Kyrie, Gloria

Tepat pukul 08.00, bel dibunyikan. Umat pun berdiri. Sebagian tampak sigap, sebagian lainnya berdiri setengah hati. Dirigen menuju mimbar dan baru memulai memberi aba-aba. Sementara itu imam, misdinar dan para asisten imam, juga pemasmur dan lektor, berjalan masuk ke dalam gedung gereja. Lagu pembukaan pun dimulai.  “Wahai umat sampaikan kurbanmu….. di altar Tuhan…Alllahmu…” Demikian sebuah lagu pembukaan karangan E Hardjowardojo (PS.321) yang sudah kesekian kali berkumandang di gereja katolik Indonesia. Umat sebagian menyanyi. Sebagian lagi ogah-ogahan. Kor dengan lantang mencoba membangkitkan umat untuk menyanyi. Nyanyaian pembukaan itu nyaris tidak ada penjiwaan sama sekali. Monoton. Umat pun mencoba menarik-narik tempo lagu sehingga terkesan mulai mengganggu tempo. Mengapa bisa demikian ? Ternyata  sang dirigen sibuk dengan kornya. Sama sekali ia tidak melihat dan kontak mata dengan umat. Apalagi kontak batin. Untunglah  organis sesekali masih memperhatikan dirigen, sehingga tempo lagu tetap terkendali.

Pada saat menyanyi sebagian anggota kor ‘bersembunyi’ dibalik teks. Terutama Tenor dan Bass yang berdiri di deretan belakang. Tak ayal, mereka jarang tepat membunyikan nada sesuai dengan ketukan. Mereka nyaris  tidak melihat aba-aba dirigen. Lagu pembukaan pun lewat. Setelah itu, romo Membuat tanda salib. “Demi Nama Bapa dan Putera dan Roh Kuudus….” memberikan salam pembukaan.  Umat menjawab dengan molor panjang “Amiii…..n…”. Umat pun menjawab ‘sendirian’.. Apa pasal ? Dirigen tidak memberikan aba-aba aklamasi umat, karena ia sudah kembali ke tempat duduknya. Seandainya dirigen memberikan aba-aba aklamasi, tentu kemoloran itu tidak terjadi.

Lewatlah sudah pembukaan. Kini mulai ke ‘Tuhan Kasihanilah Kami’. Semua berjalan dengan baik. Kecuali satu hal. Dirigen, sekali lagi, tidak memberikan aba-aba kepada umat. Hal yang sama diulangi saat ‘Kemuliaan’. Ia sibuk dengan kornya sendiri. Padahal, dalam aransemen lagu itu Mungkin karena yang dipilih adalah ordinarium yang agak sulit dan jarang dikumandangkan yakni ‘Misa Kita IV’ karangan romo A. Soetanta, SJ. Umat pun jarang yang mau menyanyikan lagu tersebut karena, selain jarang dinyanyikan, alasan lainnya adalah kesan sulit.

Sementara itu di pihak lain, organis bermain lurus-lurus saja. Artinya, ia tidak memberikan napas atau jeda antara satu kalimat musik dengan kalimat musik selanjutnya. Akibatnya, tempo atau kecepatan lagu menjadi semakin melambat.

Bagian pembukaan misa kudus, yang mestinya mantap, ternyata terasa lesu.

Mazmur.

Setelah bacaan pertama, kini giliran pemazmur yang maju ke depan. Seorang ibu. Setelah melirik   dirigen, tanda ia meminta dimulai. Dirigen pun meneruskan dengan ‘hanya’ menyodorkan telapak tangan dan anggukan kepala kepada organis. Organispun mulai memberikan intro sesuai dengan kemauannya. Bukan kemauan dirigen. Apalagi kemauan pemasmur itu sendiri. Dalam hal tersebut semestinya dirigen memberikan ketukan kepada organis sebelum dan selama intro. Tujuannya agar tempo terjaga. Intro ‘Kecaplah betapa sedapnya Tuhan’ dibunyikan.

Selama mazmur berlangsung, beberapa umat datang terlambat. Anehnya petugas tata tertib (tatib) tetap memperbolehkan mereka masuk. Akibatnya, sebuah bangku di depan saya dijejali lagi. Karena dua orang Ibu tidak mau beringsut, maka ‘pendatang baru’ tadi agak susah payah masuk ke sebelah dalam.

Di tempat lain seorang anak bermain mobil-mobilan di kursi. Sementara ada pula yang makan camilan.  Sementara ayah dan ibunya berusaha sekuat tenaga untuk berdoa. Namun, sang ibu sesekali memelototi anaknya agar tidak gaduh.

Pemazmur, seorang ibu, menyanyi dengan nada yang kurang pas. Sayang, ia menggunakan suara ‘leher’ alias register tengah. Maka produksi suaranya terkesan kasar. Karena mimbar pemazmur dan organis berjauhan, sesekali cenderung fals atau lepas dari pitch. Pemenggalan ayat pun terkesan terburu-buru karena sang pemasmur kehabisan napas. Maklum beliau menggunakan teknik pernapasan yang salah. Mestinya napas diafragma, tetapi dari naik-turunnya bahu, tampak bahwa beliau menggunakan napas dada yang, memang, sangat riskan karena pendeknya asupan napas.

Artikulasi pemazmur juga kurang. Saat saya mencoba memejamkan mata dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, terdengar beberapa konsonan (terutama ‘r’, ‘h’ dan ‘l’) tidak berbunyi dengan baik. Sementara huruf hidup ‘u’ kurang terdengar indah. Juga ‘a’. Tampaknya ibu pemasmur kurang menurunkan rahang dengan luwes dan jauh.   Vokal ‘i’ juga kurang kokoh dan terdengar tipis karena sudut bibir kurang menegang. Walhasil, suara pemazmur agak melengking kasar. Dan kerena ditambah oleh tata suara gereja yang keras, suara pemazmur menjadi terlalu keras di dengar.

Organis kembali tidak mengambil ‘jeda’ antara satu fayat mazmur dengan ayat selanjutnya. Akibatnya, sepanjang ayat bunyi  organ terus terdengar. Organis juga tidak mengambil satu nada lebih awal menjelang frase kalimat berikutnya. Akibatnya, pendengaran umat menjadi cepat lelah. Untunglah organis tidak membunyikan pedal pada saat pemasmur menyanyikan ayat. Bilamana hal itu terjadi dapat dibayangkan betapa melelahkannya pendengaran ini.

Dapatlah diduga bahwa antara organis dan pemasmur tidak pernah latihan bersama. Paling-paling, mereka berdua hanya membuat janji nada dasar menjelang misa kudus.  Itupun kalau sempat. Memang sebaiknya, antara organis dan pemasmur mengadakan latihan bersama secara rutin. Kalau ada paguyuban organis dan pemasmur, kesulitan-kesulitan dapat diatasi bersama.

Alleluya

Pemasmur yang sama menyanyikan ‘Alleluya’ dan ayatnya dengan baik. Umatpun menjawab dengan lantang dan pas. Setelah itu giliran romo menyanyikan ajakan untuk menyimak Injil Suci. Suara romo yang bariton cukup mantap. Seandainya room juga belajar teknik vocal dengan sungguh-sungguh, suara baritone beliau pasti lebih enak didengar. Romo yang menyanyi dengan indah membuat suasana misa lebih khusuk.

Tidak terasa bacaan Injil pada waktu itu telah usai. “Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya” dinyanyikan romo menutup bacaan Injil suci. Umat pun menjawab aklamasi dengan molor karena dirigen tidak memberikan aba-aba kepada umat. Seandainya dirigen, dan seharusnya memang dmikian, memberikan aba-aba, maka umat tidak akan menjawab ajakan room tersebut.

Credo

Kali ini kor memilih lagu ‘Aku Percaya’ (PS 584) yang merupakan ringkasan syahadat karangan  Jan Sunjata, OSC 1971; dan syair merupakan gubahan Yamuger, Yayasan Musik Gereja milik saudara-saudara Protestan. Terlepas setuju atau tidak setuju lagu tersebut dalam kepantasannya menggantikan ‘Syahadat’, PS 584 memang terlalu ringkas dan sederhana untuk sebuah ‘credo’. Bilamana kor lebih berani, semestinya mereka bisa memilih PS 374, baik yang berbahasa Indonesia atau bahasa latin.

Lagu Persembahan

Kor memilih lagu andalan yang tidak diambil dari Puji Syukur, melainkan sebuah lagu persembahan yang kental dengan nuansa lagu pop rohani. Pada umumnya saat persembahan adalah ajang kor ‘pamer’. Malahan dapat dijumpai, kor secara sembrono memilih lagu yang syairnya tidak ada kaitannya dengan persembahan. Yang penting lagu yang dipilih adalah lagu-lagu yang ‘enak didengar’. Soal syair menjadi urusan kemudian.

Diawali dengan syair  “Kupersembahkan kepada Tuhan …..yang  seluruh hidupku jiwa dan ragaku ….”. Lagu bergaya pop tersebut sangat melankolis dan dengan gaya legato kor bernyanyi sendirian. Sementara itu kantong kolekte dibagian, umat yang tidak ikut menyanyi sibuk sendiri pula. Beberapa dari mereka mondar-mandir untuk keluar gedung gereja.

Lagu persembahan itu disusul lagu dari Puji Syukur  “Kami Unjukkan, Kami Sembahkan” (PS 377),  frasering kor terdengar bermasalah. Mengapa demikian ? Lagu karangan Arsati itu mengandaikan napas panjang para penyanyinya agar setiap frasa kalimat dapat dinyanyiakn dengan utuh.  Namun karena napas yang pendek, maka kor tampaknya gagal melaksanakan tugasnya dengan baik. Kalimat “Kami unjukkan, kami sembahkan kebebasan dan kemerdekaan…” ternyata dinyanyikan “Kami unjukkan. Kami sembahkan. Kebebasan. Dan kemerdekaan…”. Lagu itu yang sebaiknya dinyanyikan dengan lembut dan legato, ternyata menjadi terlalu kental ‘waltz’ sehingga terdengar tertekan setiap suku kata kalimatnya. Untunglah umat sangat familiar dengan lagu tersebut turut bernyanyi dengan meriah.

Prefasi dan Sanctus

Saat menyanyikan prefasi, romo seperti membaca. Cepat. Saya berandai-andai, bila prefasi dinyanyikan dengan sedikit lambat, ungkapan doa itu dapat lebih mengena.

Tidak ada bedanya dengan sebelumnya, fokus dirigen hanyalah kor. Padahal, seharusnya ia berfungsi ganda sebagai dirigen umat juga. Maka, lagu Kudus ‘Misa Kita IV’ tersebut seolah-olah hanya kor yang menyanyikannya. Barangkali umat pun maklum biar saja kor yang menyanyikan ‘Kudus’ Misa Kita IV. Pasalnya nada tinggi beberapa kali muncul dalam ‘Kudus’ tersebut, khususnya pada syair “Diberkatilah yang dating dalam nama Tuhan … Dalam Nama Tuhan… “ . Bahkan beberapa soprano terdengar ‘ngotot’ membunyikan nada-nada tinggi tersebut.

Doa Syukur agung yang dipilih romo adalah DSA II. Ringkas dan pendek. Sama seperti misa sebelumnya (dan dimana-mana) sikap umat pun bermacam-macam. Nyaris tidak ada keheningan suasana saat roti dan anggur  berubah menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Setelah konsekrasi, romo memilih “Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini ……” Dan tanpa dibantu dirigen, umat menjawab dengan tempo lambat “Wafatmu kami kenang…..”

Bapa Kami

Tanpa terasa romo mulai mengangkat dan mengajak umat “Atas petunjuk Penyelamat kita …”. Organis pun mengambil intro lagu Bapa Kami (Filipina). Sebagian besar menyanyikan lagu tersebut dengan penuh semangat. Ada yang memejamkan mata, sementara ada pula yang membuka tangannya lebar-lebar. Romo pun ikut menyanyi dengan keras di depan mikropon, sehingga suaranya menutupi suara umat. Tempo lagu Bapa Kami pun menjadi milik romo. Dirigen tidak mampu menguasa tempo, sehingga lagu yang semestinya bertempo sedang dan khitmad (karena merupakan doa) berubah menjadi cepat, ala Marcia.

Salam Damai

Saat romo mengajak umat bersalam damai, pilihan kor adalah lagu ‘Dalam Kristus Kita Bersaudara”. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, lagu rohani yang berasal dari gereja non Katolik tersebut ternyata disambut dengan meriah. Umat pun dengan wajah dan senyum mengembang memberikan salam damai kepada umat lain. Tidak ketinggalan kor.

Agnus Dei

Karena para anggota kor memberikan salam damai dengan meriah pula, dirigen perlu menenangkan mereka sebelum mereka menyanyikan ‘Anak Domba Allah’.  Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi bila para anggota kor hanya membarikan salam damai di kiri dan kanannya saja.

Lagu ‘Anak Domba Allah’ Misa Kita IV menuntut dirigen untuk piawai mengubah aba-aba ketukan dari 4/4 menjadi ¾ dan kembali ke 4/4. Tampak sekali dirigen mengalami kesulitan di bagian tersebut.

Komuni

Saat menyanyikan lagu komuni yang pertama, kor memilih lagu “O Rahmat Yang Mengagumkan” (PS 600) terjemahan dari lagu “Amazing Grace” karya John Newton. Meskipun dinyanyikan dengan lambat, kor tidak mengimbanginya dengan pengaturan napas yang panjang. Dinamikanya pun tidak diperhatikan sehingga kesan lagu tersebut menjadi monoton. Namun demikian, lagu tersebut tidak ‘mengganggu’ umat yang berdoa setelah menerima komuni.

Pilihan dirigen untuk lagu komuni kedua cukup tepat. Madah syukur setelah komuni yang dinyanyikan sebaiknya dikenal baik oleh umat, sehingga mereka ikut menyanyi. Tidak mengherankan pada saat kor menyanyikan lagu “Laksana Rusa” (PS.425), umat menyambutnya dengan riang.

Lagu Penutup

Pilihan dirigen atas lagu penutup sudah tepat. Meskipun sebenarnya tidak harus ada nyanyian, gereja katolik di Indonesia lebih menyukai menutup Misa Kudus dengan nyanyian. Kali ini kor memilih ‘Hai Bangkit Bagi Yesus’ (PS. 700). Sebuah lagu yang meriah sebagai bekal pulang. Syair abad pertengahan karangan George Duffiled 1858 Stand Up, Stand Up  for Jesus terasa pas pemberi semangat umat meninggalkan gereja.

Akhirnya…..

Dalam praksis,  Liturgi Ekaristi, yang berarti ‘syukuran’ bisa dimaknai bermacam-macam. ‘Masih untung umat mau hadir’. Untung pula ada yang mau menjadi dirigen, kor, organis, pemasmur, lektor, asisten imam, petugas tata tertib. Untung ada misdinar. Untung pula ada romo. Maka dengan segala keterbatasannya, gereja kita tetap meriah. Meskipun, sebagian umat ogah-ogahan. Meskipun sebagian dari mereka hanya sekedar  badannya yang hadir. Jiwanya entah kemana. Mungkin sudah sibuk dengan pikiran ‘sesudah dari gereja mau ke mana ?’. Barangkali pula, kehadiran ke gereja hanya ingin menyenangkan anak, istri, pacar, atau mertua. Namun, apapun motifnya, umat mau hadir. Mau juga memberikan kolekte. Dan, masih ada yang mau menyanyi. Maka, tugas kitalah para petugas musik gereja (dirigen, organis, pemazmur), untuk lebih mensyahdukan liturgi. Mengkhusukkannya,  dan menjadikan gereja semarak luar dalam.

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Seputar Liturgi Gereja Katolik. Tandai permalink.

2 Balasan ke MISA KUDUS di SUATU HARI MINGGU

  1. dion bio berkata:

    bagaimana cara mendownload lagu pada * laudenovella.org/download…
    * coroclpavia.com/download.…

    • Anton Teguh berkata:

      Pak Putra yang baik,

      Silahkan unduh dengan mengklik di lagu yang mau didengarkan. Bila Bapak memakai browser firefox, silahkan langsung disimpan. Memang, karena filenya berbentuk midi (*.mid), perlu diputar dengan software tertentu.

      Selamat mencoba ya Pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s