Seragam Koor Dalam Misa Kudus

A.J. Tjahjoanggoro

Rasanya kurang sreg (afdol) kalau kelompook koor tidak menggunakan seragam pada saat tugas menyanyikan misa. Atau, boro-boro memikirkan seragam, latihan koor saja sudah setengah mati apalagi membutuhkan biaya yang besar sedangkan kemampuan ekonomi anggota relatif terbatas.

Dari dua pandangan ekstrim tersebut sikap mana yang pantas untuk diikuti? Satu sisi seragam koor menunjukkan nilai kepatutan dan kepantasan liturgis serta dapat memberikan kesan ‘kompak’ dalam berpadu suara. Seragam koor tidak perlu mewah dan mahal serta tidak perlu harus selalu berbeda corak pada setiap tugas menyanyikan misa. Memang tidak ada bakuan (standar) model seragam koor dalam misa seperti busana liturgi imam, putra altar, asisten imam/prodiakon.

Selain itu tidak ada kewajiban kelompok koor berseragam pada saat tugas menyanyikan misa. Hanya saja, seragam koor minimal dapat menunjukkan identitas dan kesadaran diri sebagai salah-satu kelompok pelayan/petugas dalam misa bersama umat. Pada prinsipnya, kelompok koor seyogyanya menggunakan busana liturgi yang sepantasnya, syukur bisa berseragam meski hanya sederhana, misal hitam-putih sekalipun.

Dalam bertugas menyanyikan misa kelompok koor diharapkan lebih mengutamakan kualitas suara dan ungkapan iman yang mendalam. Dengan demikian pakaian seragam tidak perlu terlalu dirisaukan sementara olah suara dalam latihan tidak bisa optimal. Lebih baik kelompok koor bersuara bagus dengan pakaian liturgi yang sepantasnya (termasuk berliturgi yang benar, baik, indah dan suci) daripada berpakaian seragam yang rapi dan indah dengan kualitas suara yang pas-pasan atau bahkan amburadul.

Tolok ukur tampilan koor dalam bertugas menyanyikan misa terutama adalah menjembatani vokalisasi imam dan umat selama misa berlangsung. Pengertian ’seragam’ dalam berpadu suara dapat diperluas lagi, tidak hanya terkait dengan pakaian/busana saja namun terlebih pada pola nyanyian misa yang mengacu pada buku TPE (Tata Perayaan Ekaristi KWI, 2005).

Khususnya dalam mendaraskan nyanyian aklamasi seperti misal pada Ritus Pembuka Tanda Salib yang diawali oleh imam ”Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Lalu, dijawab oleh umat dengan pendarasan melodi ”Amin”. Seyogyanya didaraskan secara mantap, semangat, serempak, intonasi yang tepat, tempo moderato, melodi resitatif/melismatis, dan khidmat.

Seragam bukan terutama berarti harus ’sama’ namun memadukan keragaman dalam kesatuan suara. Dengan pembawaan nyanyian aklamasi, ordinarium dan proprium yang tepat dalam perayaan ekaristi akan dapat menciptakan suasana ’persekutuan dan persaudaraan sejati seiman’ sebagaimana paduan suara malaikat di surga.

Dengan demikian busana koor yang seragam tidak perlu menjadi beban yang memberatkan dirigen, organis dan anggota koor. Namun sebaliknya seragam koor justeru menjadi tantangan untuk terutama menguasai dan membawakan nyanyian misa secara benar dan baik sehingga bisa menjembatani vokalisasi imam dan umat serta mampu memadukan nyanyian umat yang berpartipasi dalam perayaan ekaristi.

Lebih jauh lagi, kualitas pelayanan kelompok koor dalam bernyanyi diharapkan dapat membantu menciptakan suasana yang indah dan suci dengan sikap yang ’seragam’ baik secara lahiriah maupun batiniah imani dan sembah bekti hanya kepada GUSTI yang mahaagung. Amin.

Selamat ber-’seragam’ dalam bernyanyi hanya bagi kemuliaan TUHAN.

Salam Magnificat

A.J. Tjahjoanggoro

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s