Apakah Anda, bisa merasakan insetting !?

Pada saat pelatihan Hypnoconducting Angkatan III 26 April 2009 di Magnificat, seluruh peserta panas-dingin saat mempraktekkan insetting yang menghipnotis. Momen insetting itu harus diulang-ulang sampai para peserta dari paroki St. Yakobus, Citraland itu ‘merasakan’ momen penting itu. Namun, sesudah mengalami dan merasakan momen insetting, para calon dirigen itu semakin percaya diri menjadi dirigen.

Secara sederhana insetting adalah saat kritis dimana dirigen mengayunkan lengannya untuk memberikan aba-aba. Insetting adalah sebuah start.

Insetting bukanlah peristiwa sembarangan. Ada yang menyebut, 75 persen keberhasilan aba-aba tergantung insetting-nya. Bayangkan bila insetting salah. Yang terjadi kemudian adalah runtuhnya bangunan kor.

Nah, para rekan dirigen, bagaimana melakukan insetting yang berhasil ?

Insetting membutuhkan konsentrasi penuh. Insetting adalah sebuah momen hipnotik., Karena hanya berlangsung sekejap. Dalam sekejap itulah dipertaruhkan seluruh lagu yang dibawakan kor.

Insetting ibarat momen kritis seorang pelari cepat 100 meter. Pada saat ancang-ancang, sang pelari itu membutuhkan konsentrasi penuh. Ia hanya melihat ujung garis finish. Sementara pendengarannya menyiapkan bunyi letusan pistol start. siaaaaap……..dor !…………Sang pelaripun berlari cepat.

Momen menunggu turunnya tangan, sama dengan menunggu bunyi ‘dor’ aba-aba lari cepat. Konsentrasi sedikit lepas, momen-momen selanjutnya tidak berarti lagi.

Nah, agar berhasil melakukan insetting, lakukanlah 5 hal di bawah ini :

1. Berdirilah yang tegap, penuh percaya diri.

2. Pejamkan mata untuk berkonsentrasi…..rasakan sejenak kesiapan diri.

3. Mulailah merasakan ‘kesatuan’ Anda dengan anggota kor.

4. Angkat lengan Anda….tunggu……tarik nafas sejenak …alami ‘ketegangan’…dan….

5. Ayunkan……

Meskipun tampak sederhana, insetting bukanlah tanpa masalah. Masalah insetting umumnya berasal dari tidak mudahnya berkonsentrasi bagi dirigen. Itu terjadi karena beberapa sebab.

Pertama, penyanyi belum siap. Beberapa di antara mereka sibuk dengan kertas partitur. Beberapa yang lain masih berbisik dengan teman. Singkatnya, anggota kor belum memfokuskan dirinya kepada dirigen. Sementara itu, sang pengiring atau organis juga sibuk dengan dirinya sendiri.

Bila terjadi demikian, tugas dirigen hanya satu. Diam dan menunggu sampai anggota kor fokus kepada Anda sebagai dirigen. Sebelum fokus itu terjadi hindari mengayunkan tangan.

Sebab kedua, dirigen belum ‘menemukan’ musik. Misalnya, dirigen tiba-tiba kehilangan kontrol atas tempo dan lagu. Nah, bila terjadi demikian, kendorkan lagi tangan Anda. Dan mulailah proses insetting dari awal.

‘Rasa’ insetting harus senantiasa dilatih. Latihan insetting menjadikan Anda para dirigen cepat memasuki momen konsentrasi. Maka dalam latihan rutin hindari memulai latihan tanpa insetting yang menghipnotis.
(Anton Teguh)

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s