Sekali lagi tentang : Musik Liturgi !

Oleh : ANTON TEGUH

Seorang pembaca mengirimkan email kepada kami. Begini isinya :
Mengapa lagu – lagu “Karismatik” dianggap bukan lagu liturgi? Mengapa musik pop, iringan band, kurang disukai di (gereja) Katolik? Apakah musik liturgi terpatok pada pola-pola tertentu? – Freddy, Surabaya
Saudara Freddy yang baik, dan para pembaca sekalian.
Mohon dipahami bahwa di belakang setiap komposisi vokal maupun instrumental yang digubah oleh komposer terkandung sebuah niat. Termasuk di dalamnya isi syairnya. Ditambah pula: suasana atau konteks pada saat sang penggubah menciptakan lagu dan syair tersebut. Apakah saat menciptakan sebuah komposisi ia dalam keadaan ‘penuh rahmat’ ataukah justru dalam suasana ‘tidak berahmat’.
Maka bilamana kita saat ini mendengar ratusan bahkan jutaan lagu di dalamnya terkandung maksud, niat dan nuansa suasana batin dari si pengarang.
Demikian pula dengan Musik Liturgi.
Musik Liturgi adalah musik yang diciptakan HANYA dan HANYA untuk Liturgi. Tidak untuk maksud atau niat lain, karena Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat / liturgi. Ia mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”
Di sisi lain, musik / nyanyian liturgi mengabdi pada partisipasi umat dalam ibadat, seperti yang diuraikan dalam SC art. 114: “Khazanah musik liturgi hendaknya dilestarikan dan dikembangkan secermat mungkin. … Para uskup dan para gembala jiwa lainnya hendaknya berusaha dengan tekun, supaya pada setiap upacara liturgi yang dinyanyikan segenap jemaat beriman dapat ikut serta secara aktif dengan membawakan bagian yang diperuntukkan bagi mereka.”
Dengan demikian, Musik Liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat, yakni:
a) Nyanyian Pembukaan, tujuannya adalah membuka misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya (Pedoman Umum Misale Romawi baru / PUMR no. 47-48).
b) Nyanyian Tuhan Kasihanilah Kami, sifatnya adalah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihannya. Teks liturgi yang resmi adalah: (1) seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, (2) seruan “Kristus kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat, (3) seruan “Tuhan kasihanilah kami” dibawakan oleh imam / solis dan diulang satu kali oleh umat (PUMR no. 52).
c) Madah Kemuliaan, kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman Kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anak domba Allah, serta memohon belas kasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks lain, juga tidak boleh ditambahi atau dikurangi, atau ditafsirkan dengan gagasan yang lain (PUMR no. 53).
d) Nyanyian Mazmur Tanggapan merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah (Bacaan I dari Kitab Suci Perjanjian Lama). Mazmur Tanggapan biasanya diambil dari buku Bacaan Misa (Lectionarium), para petugas / pemazmur biasanya menggunakan buku resmi “Mazmur Tanggapan dan Alleluya Tahun ABC”.
e) Nyanyian Ayat Pengantar Injil / Alleluya, dengan aklamasi Ayat Pengantar Injil ini jemaat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil, dan sekaligus menyatakan iman (PUMR no. 62).
f) Nyanyian Aku Percaya (fakultatif, maksudnya boleh tidak dinyanyikan): maksudnya adalah agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dari Alkitab dan dijelaskan dalam homili. Dengan melafalkan kebenaran-kebenaran iman lewat rumus yang disahkan untuk penggunaan liturgis, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri iman sebelum mereka merayakannya dalam Liturgi Ekaristi. Oleh karenanya tidak diperbolehkan menggantinya dengan teks lain (PUMR no. 67-68)
g) Nyanyian Persiapan Persembahan, tujuannya adalah untuk mengiringi perarakan persembahan, maka digunakan nyanyian dengan tema persembahan. Kalau tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian (PUMR no. 74).
h) Nyanyian Kudus adalah nyanyian partisipasi umat dalam Doa Syukur Agung. Nyanyian Kudus harus diambil dari buku teks resmi (TPE) (PUMR no. 78 b).
i) Nyanyian Bapa Kami, tujuannya adalah untuk mohon rezeki sehari-hari (roti Ekaristi), mohon pengampunan dosa, supaya anugerah kudus itu diberikan kepada umat yang kudus. Teks Bapa Kami harus diambil dari buku teks misa resmi (TPE) bukan dari teks yang asal-asalan atau teks liar (PUMR no. 85)
j) Nyanyian Anak Domba Allah, tujuannya adalah untuk mengiringi pemecahan roti dengan teks misa resmi sbb: “Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami (2 X). Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai.” (PUMR no. 83).
k) Nyanyian Komuni tujuannya adalah: (1) agar umat secara batin bersatu dalam komuni juga menyatakan persatuannya secara lahiriah dalam nyanyian bersama, (2) menunjukkan kegembiraan hati, dan (3) menggarisbawahi corak “jemaat” dari perarakan komuni. Maka lagu komuni harus bertemakan komuni / tubuh dan darah Kristus, tidak boleh menyanyikan lagu untuk orang kudus / Maria, Tanah Air, panggilan – pengutusan, atau yang lain (PUMR no. 86).
l) Nyanyian Madah Pujian sesudah Komuni dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas santapan yang diterima yaitu tubuh (dan darah) Kristus sebagai keselamatan kekal bagi manusia (PUMR no. 88).
m) Nyanyian Penutup (fakultatif) bertujuan untuk mengantar imam dan para pembantu-pembantunya meninggalkan altar dan menuju ke sakristi.
Musik (pop) rohani non liturgis ?
Musik Rohani adalah musik yang sengaja diciptakan untuk keperluan di luar ibadat liturgi. Bilamana mencermati perkembangan akhir-akhir ini musik rohani tidak hanya ditampilkan pada saat-saat rohani, misalnya dalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik tetapi mulai merambah ke lingkungan profan. Misalnya: pertemuan mudika, arisan-arisan, rekreasi, pelatihan, pentas musik rohani, rekaman, sinetron, di putar di café bahkan di rumah dan di mobil-mobil.
Jadi sesungguhnya lagu-lagu rohani tidak bisa serta merta dimasukkan dalam liturgi ekaristi kudus karena memang tidak diciptakan dan terkait upacara ibadat, dan tidak secara khusus diciptakan untuk kepentingan liturgi.

Dalam hal pemilihan jenis musik, alat musik, dalam liturgi dasarnya bukan persoalan selera pribadi : suka atau tidak suka, tetapi sesuai atau tidak sesuai, cocok atau tidak cocok dengan tujuan penggunaan musik dalam liturgi. Lagu pop pun bisa cocok, contohnya lagu Malam Kudus. Alat-alat musik akustik, khususnya dalam rangka inkulturasi, juga digunakan oleh banyak gereja katolik di nusantara untuk mengungkapkan iman dan doa.

Lalu bagaimana dengan penggunaan ‘sound system’ ? Paduan suara yang bagus pun bisa tidak cocok bila menggunakan ‘sound system’ yang sangat kuat sehingga suara Imam dan umat tenggelam, atau bila menyanyikan lagu-lagu yang tidak dipahami umat.

Akhirnya, kecocokan dan kesesuaian sebuah lagu atau penggunaan alat-alat musik di dalam liturgi/ibadat adalah wewenang uskup setempat cq komisi liturgi keuskupan masing-masing.

Iklan

Tentang Anton Teguh

Please visit antonteguh.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Musik Liturgi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s