MENYISIASATI PEMANASAN VOKAL

Oleh Anton Teguh

Setiap kor jaman sekarang hampir pasti melakukan pemanasan sebelum latihan. Juga sebelum tampil. Tidak terkecuali kor gereja kita. Ada banyak pendapat tentang pentingnya pemanasan. Alasan utamanya adalah : menyiapkan alat-alat suara agar pada saat digunakan tidak menimbulkan cidera. Tanpa pemanasan yang cukup, katanya, alat-alat suara tidak akan memadahi.

Namun, pemanasan juga ternyata menimbulkan masalah, sehingga ada yang tidak menggunakan pola pemanasan sebelum latihan. Mana yang benar ?

Pro Pemanasan.

Sama seperti seorang olahragawan, seorang penyanyi harus menyiapkan organ-organ tubuhnya (khususnya yang terkait dengan vokal), sebelum mereka ‘bertanding’.    Caranya bermacam-macam. Ada pemanasan dengan bunyi, ada yang tidak berbunyi alias tidak bersuara. Yang disiapkan pun bermacam-macam. Mulai dari menaikturunkan rahang, sampai dengan membunyikan aneka suara. Mulai dari yang serius, sampai yang menggunakan lagu anak-anak agar lebih lucu. Pendek kata, seluruh organ vokal digugah untuk bangun dan siap untuk bernyanyi.

Kontra Pemanasan.

Pemanasan ibarat membuang waktu dan energi. Wasting time.  Begitulah pendapat yang kontra pemanasan. Paling tidak pemanasan membutuhkan 15-30 menit. Harga yang mahal untuk sebuah latihan yang durasi efektifnya hanya 90 menit. Bila pemanasan dilakukan, sebuah kor hanya efektif berlatih 60 menit ! Bahkan, pemanasan yang berlebihan akan menguras tenaga dan malahan berpotensi mengurangi  semangat pada saat ‘latihan yang sesungguhnya’. Harap diingat bahwa pada saat menjajal sebuah lagu, tidak jarang terjadi proses pengulangan frase. Tidak jarang pula, karena mencoba notasi baru, terjadi lagi proses pengulangan sebuah bagian lagu. Nah, bukankah itu juga berarti pemanasan ? Begitulah kira-kira pendapat yang tidak setuju (seluruhnya atau sebagian) tentang pentingnya pemanasan.

 

Pemanasan ‘Terselubung’.

Pemanasan vokal sesungguhnya bisa dikompromikan dan disiasati sehingga tujuan pemanasan  dapat tercapai tanpa kehilangan banyak waktu. Bagaimanakah caranya ? Setidaknya ada beberapa cara.

a. Mulailah dengan menyanyikan lagu yang paling mudah.

Lagu-lagu yang mudah dapat dinyanyikan lebih dahulu. Selain untuk menaikkan kepercayaan diri penyanyi, lagu-lagu yang paling mudah dinyanyikan dapat dijadikan bahan pemanasan. Baik di Puji Syukur maupun Madah Bakti, lagu-lagu 8-16 birama tidak sedikit jumlahnya. Demikian pula lagu-lagu ‘Taize’. Untuk itu, di awal latihan, mulailah menyenandungkan lagu itu dengan lembut, tidak ‘full power’. Tidak juga memaksakan diri. Dengan demikian, penguasaan lagu dapat ditingkatkan, waktu latihan dapat dihemat, tetapi keluwesan alat-alat suara pun dapat disiapkan.

b. Menyanyikan Ulangan Mazmur dan Alleluya.

Penulis seringkali menggunakan ulangan mazmur dan alleluya yang akan ditugaskan I untuk dibuat sebagai bahan pemanasan. Malahan, alleluya yang bergaya Gregorian dapat menjadi cara melatih pernafasan.

c. Menyanyikan Lagu Ordinarium.

Lagu-lagu ordinarium dapat dijadikan bahan pemanasan pula. Umumnya karena terlalu sering menyanyikan sebuah lagu ordinarium, maka tidaklah sulit bagi kor untuk menjadikannya bahan pemanasan.

d. Menyanyikan ‘Bapa Kami’

Kor dapat diajak bernyanyi sambil berdoa sambil pemanasan. Lagu ‘Pater Noster’, ‘Bapa Kami’ dari berbagai gaya dapat dijadikan bahan. Tidak jarang, dengan menyanyikannya dengan sungguh-sungguh, kehadiranNya dapat memberikan semangat berlatih.

Memang dibutuhkan kreatifitas untuk memilih racikan lagu yang akan dinyanyikan  sekaligus dapat langsung dijadikan bahan pemanasan. Ada banyak teknik. Namun, marilah kita memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Bukankah itulah salah satu tugas dirigen. Ataukah ada usul lain ?

EKSPLORASI PARTITUR

Oleh Anton Teguh

 

Apakah mulai bosan dengan sebuah lagu ? Padahal, kor hanya mungkin menyanyikan lagu – lagu tersebut ? Mungkin karena terlalu sering menyanyikan lagu yang ‘itu-itu’ saja, kita tidak tertantang lagi untuk menyanyikan sebuah lagu. Kita menjadi malas karenanya. Apalagi lagu tersebut terkesan monoton bak sayur tanpa garam. Untuk itu, ayo kita mengeksplorasi partitur.

Tugas Dirigen sebagai Eksplorer

Adalah tugas dirigen membuat yang ‘biasa’ menjadi ‘tidak biasa baiknya’ sebuah lagu. Dirigen yang peka akan mencoba ‘mengoprek’ sebuah partitur tanpa menghilangkan orisinalitas partitur itu. Itu sama seperti para jagoan modifikasi sepeda motor. Tanpa menghilangkan keasliannya, sang modifikator sepeda motor akan membuat ‘lain daripada yang lain’ sebuah motor. Entah ia menambah asesoris ini atau asesoris itu agar si motor menjadi  ‘sip’ tongkrongannya !

Bila jeli, sebuah partitur  lagu memiliki potensi yang sangat kaya untuk digali dan dimodifikasi tanpa kehilangan ‘roh’nya.  Berikut ini modifikasi sederhana yang dapat dicoba. Apa sajakah itu ?

Intro : Tidak Harus Instrumental. Vokal pun boleh.

Umumnya  organis memberikan intro sebuah lagu adalah nada organ dari baris terakhir sebuah lagu. Atau gabungan awal dan akhir lagu. Atau intro yang berbeda  sama sekali dengan isi lagu. Namun intro yang ‘normal’ adalah nada-nada suara organ. Apakah harus demikian ? Tentu tidak. Intro sebuah lagu dapat berupa  nyanyian. Caranya ? Cobalah meminta organis hanya membunyikan nada dasar. Lalu, nyanyikanlah satu bait refrain.    Misalnya, lagu ‘Kami Unjukkan’  bisa dimulai dengan menyanyi kan bagian “Bagi Tuhan Kami Persembahkan….” Lalu organis membuat variasi intro dan   baru masuk ke lagu “Kami unjukkan… kami sembahkan… kebebasan dan kemerdekaan..”         Contoh lain adalah “How Great Thou Art”. Kor dapat memulai dengan langsung menyanyikan “Then sing my soul…”, baru kemudian organis mengreasikan sebuah intro sebelum masuk lagu “Oh Lord My God….”

Mengganti nada intro yang sudah ‘pakem’ dengan vokal dapat pula dicoba. Hasilnya tidak kalah cantik. Misalnya, intro ‘Panis Angelicus’ (Cesar Franck)  yang indah itu dapat diganti acapella unisono  sopran dengan humming atau ‘aaaaaaa……”

 

Modulasi Naik Satu Nada.

Ini adalah teknik umum. Namun jarang yang berani mencoba. Caranya sederhana. Organis menaikkan satu nada setelah kor menyelesaikan seluruh lagu. Tujuannya adalah agar ada kejutan dan mengurangi kebosanan.  Tetapi sekaligus memberikan tantangan. Variasi ini cocok untuk lagu yang diulang-ulang  dan pendek. Misalnya lagu “Amazing Grace”.  Nah, setelah tuntas bait terakhir, cobalah menaikkan satu nada (misalnya dari 1=F menjadi 1= G) sebelum menyanyikan bait selanjutnya. Keren kan ? Lagu-lagu yang pendek lain bisa dicoba, misalnya “Biar Kanak-kanak  datang KepadaKu….”  (A. Soetanta,SJ) Bisa dicoba pula.

Coda  Kreatif : Mengulang  dan Menambah

Bagian penutupan adalah bagian penting untuk memberikan kesan. Tetapi juga penting untuk memberikan kejutan bagi . Bagian coda layak dieksplorasi. Cara mudah adalah mengulang kalimat terakhir. Misalnya dalam lagu “Golgota Tempat Tuhanku Disalib”.  Ulangilah akhir syair bait pertama :  “Bagi orang berdosa, yang memandang Golgota.”.

Lagu-lagu lain yang dapat  diulang baris terakhirnya adalah    lagu dengan refrain.     Misalnya  “Siapa Yang Berpegang”. Pada bagian refrain syair ‘Hidupmu dalam YESUS sungguh bahagia…’  dapat diulang dua kali. Mengulang dua kali memang indah. Namun lebih mengejutkan bila  ditambah tanda fermata di bagian yang diulang tersebut. Misalnya  di kata ‘SUS’ dihentikan sejenak sehingga menjadi      ‘Hidupmu dalam YESUS……..(jeda fermata)  sungguh ba…  ha…gi… a…

Tambahan lain yang tidak kalah menarik adalah mengubah nada menjadi ‘naik’ agar kesan megah dapat diungkapkan. Dalam lagu yang sama syair ‘sungguh ba…  ha…gi… a…  ‘ dengan nada (1 2 3 1 2 1)  diubah menjadi nada ( 1 3 5 6 7  i … )

Nah, dengan memperhatikan struktur sebuah lagu, kita dapat memodifikasinya agar tampil beda. Selamat bereksplorasi !

 

 

10 HAL PENGGANGGU LATIHAN PADUAN SUARA

Anton Teguh

Nyawa paduan suara adalah latihan. Sebagai suatu ketrampilan, ‘exercise makes perfect’. Namun latihan paduan suara, khususnya paduan suara di wilayah, acapkali terganggu karena beberapa hal ‘klasik’. Bisa jadi sangat sepele. Akibatnya, target  latihan  tidak tercapai. Berikut ini sepuluh daftar  ‘pengganggu’ latihan paduan suara yang dapat berasal dari dalam maupun luar paduan suara.

 

 

Anggota paduan suara biasanya datang secara sukarela. Suka akan lagu yang akan dibawakan. Suka terhadap suasana latihan. Atau ada kesukaan lain sehingga mereka rela untuk hadir. Namun ada saat dimana mereka absen. Berbagai macam hal bisa menjadi alasan. Misalnya masalah kesehatan diri maupun keluarga. Yang pasti, ketidakhadirannya menandakan ‘ada sesuatu yang lebih penting’ daripada berlatih. Oleh karena itu, dirigen dan pemimpin kelompok wajib mengetahui alasan-alasan tersebut.

 

Bila anggota paduan suara banyak, tidak ada masalah. Namun apabila jumlahnya sedikit, sangat berpengaruh. Apalagi yang absen adalah motor di masing-masing suara.

 

Bila sedikit yang hadir, sebaiknya dirigen tidak membatalkan latihan. Justru dengan jumlah sedikit, dirigen dapat lebih intensif dan rinci melatih anggota paduan suara yang ada.

 

 

Jarang ada latihan kor yang tepat waktu. Selalu ada alasan untuk terlambat latihan. Maka, dirigen harus tegas untuk segera mulai latihan apabila waktunya telah tiba. Masalahnya : bagaimana kalau dirigen itu sendiri yang datang terlambat ? Maka, ia wajib mendelegasikan kepada koordinator kor (kalau ada) bila ia terlambat. Atau kepada siapa ia percaya.

 

Waktu sangat berharga. Kehilangan satu menit dapat mengganggu target waktu latihan. Maka, dirigen harus  memiliki kata-kata kunci untuk berkomunikasi secara efisien namun efektif. Ringkas, tegas dan langsung terhadap sasaran adalah kunci komunikasi saat memimpin latihan.

 

 

 

 

Kebiasaan mengobrol adalah bagian dari budaya kita. Biasanya latihan tidak segera dimulai karena anggota kor asyik mengobrol . Juga pada saat dirigen sedang melatih masing-masing suara. Biasanya kelompok suara yang  tidak dilatih cenderung mengobrol. Untuk itu dirigen harus tegas dan lembut  untuk senantiasa mengingatkan anggota nya agar tetap fokus latihan.

 

 

Dirigen  yang memilih lagu melebihi kemampuan nyata anggota kornya dapat menjadi bumerang bagi diringa sendiri.  Waktu latihan menjadi  lebih lama karena fokus   latihan hanya demi ‘membela’ satu atau dua lagu. Maka, pilihlah lagu yang sesuai.

 

Organ jarang ada di tempat latihan. Organis pun  jarang.  Terpaksa dirigen memberi contoh dengan suaranya sendiri tanpa bantuan pengiring. Tentu saja hal tersebut dapat menguras energi  dirigen.  Maka, dirigen dapat menunjuk satu orang dari masing-masing suara untuk memberikan contoh.

 

 

Hati-hati memilih konsumsi latihan. Bila salah, bisa membuat tenggorokan sakit. Misalnya makanan yang berlemak dan berminyak. Sajikan konsumsi di akhir latihan saja agar tidak mengganggu jalannya latihan.

 

 

Umumnya kor latihan di salah satu rumah umat. Bila memadahi, tidak ada masalah. Namun ruangan yang tidak memberikan keleluasaan  berekspresi dapat menghambat latihan kor. Maka, gunakan aula sekolah, atau gereja untuk latihan. Setidak-tidaknya sebelum bertugas.

 

Pastikan teks sudah ada ‘sebelum’ latihan dimulai. Bila teks tidak ada, pada saat latihan paduan suara, waktu akan terbuang banyak untuk menggandakannya.

 

 

Faktor eksternal seperti cuaca buruk, dan hujan seringkali menghalangi anggota kor hadir latihan. Bagi anggota kor yang bermobil, barangkali, tidak ada masalah. Namun bagi yang bersepeda atau bersepeda motor, hujan seringkali menjadi kendala.  Untuk itu, bila memang cuaca tidak memungkinkan, dan diketahui sebelumnya, sebaiknya latihan dibatalkan dan diganti hari lain. Caranya : mengirimkan SMS atau ditelepon beberapa jam sebelum latihan dimulai.

 

Demikianlah 10 hal penggganggu latihan paduan suara.Bagaimana dengan paduan suara Anda ?

 

 

 

Bila Kor Tidak Punya Tenor

oleh

Marcelino Rudyanto

 

Pertanyaan pembaca:

Kor kami beranggotakan pria dan wanita, tetapi jumlah prianya sangat sedikit dan hampir semua bersuara bas. Kalau kami menyanyi lagu aransemen empat suara, bolehkah suara tenor dinyanyikan oleh sopran? (NN di Surabaya)

 

Jawaban Magnificat:

Sebelum menjawab pertanyaan anda, perlu kami jelaskan dulu jenis-jenis kor. Pada dasarnya ada dua jenis kor, yaitu kor sejenis dan kor campur. Kor sejenis adalah kor yang penyanyinya bersuara ‘wanita’ saja (sopran-alto atau sopran-mezzo sopran-alto) atau ‘pria’ saja (tenor-bas atau tenor-bariton-bas), sedangkan kor campur ialah kor yang penyanyinya bersuara campuran suara ‘pria’ dan ‘wanita’. Perlu ditegaskan bahwa sebenarnya kata ‘pria’ dan ‘wanita’ di sini bukan mengacu pada jenis kelamin penyanyi tetapi mengacu pada register suara. Aransemen lagu untuk dua jenis kor ini berbeda, sehingga biasanya buku kumpulan lagu resmi untuk perayaan ekaristi diterbitkan dalam dua edisi, yakni edisi kor campur dan edisi kor sejenis.

Berdasarkan definisi di atas, maka kor anda termasuk kategori kor campur, hanya masalahnya pada kor anda terdapat kekurangan satu suara yaitu suara tenor.

Dari pertanyaan anda, kami menduga anda berpikir bahwa karena tenor menyanyi nada-nada tinggi maka ia dapat digantikan oleh suara lain yang juga bersuara tinggi, yakni sopran. Benarkah demikian? Cobalah nyanyikan sebuah aransemen lagu SATB dengan sopran membawakan notasi tenor, maka anda akan mendapatkan bunyi yang berbeda, yang kurang enak didengar.

Mari kita analisis mengapa kurang enak didengar. Kita ambil contoh, ada susunan not angka SATB berturut-turut dari atas ke bawah 5 1 (do atas – sol – mi atas – do). Dari susunan not angka tersebut terlihat nada tenor (mi) bahkan lebih tinggi daripada sopran (do) sehingga tampaknya tidak ada masalah bila bagian tenor dinyanyikan oleh sopran. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Berbeda dengan notasi balok, penulisan notasi angka tidak menunjukkan tinggi-rendah nada secara mutlak. Kita harus ingat bahwa register suara pria berada satu oktaf di bawah suara wanita, sehingga pada contoh di atas not mi atas pada tenor sebenarnya lebih rendah dibanding do atas pada sopran, bahkan lebih rendah dibanding sol-nya alto. Dengan demikian jelaslah mengapa bila notasi tenor dinyanyikan sopran maka bunyinya tidak enak, yakni karena suara sopran (yang biasanya membawakan melodi lagu) tertutup oleh sopran lain yang membawakan nada lebih tinggi, juga karena perpindahan suara tenor satu oktaf ke atas (ke sopran) menyebabkan adanya ‘kekosongan’ di antara suara tinggi dan suara rendah.

Lantas bagaimana solusinya? Karena suara tenor dan alto sama-sama berada pada register tengah, maka bagian yang sebenarnya untuk tenor dapat dinyanyikan oleh alto. Maka solusi untuk paduan suara anda yang kekurangan tenor adalah bagilah alto anda menjadi dua, satu untuk menyanyikan bagian tenor. Bila anda menggunakan not angka, lakukan sedikit perubahan pada teks lagu dengan menurunkan satu oktaf semua not angka tenor agar dapat dinyanyikan oleh alto.

Jadi, jawaban kami terhadap pertanyaan anda bukan boleh atau tidak boleh karena ini adalah masalah estetika. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam hal warna suara antara alto dan tenor, mengganti tenor dengan alto akan menghasilkan bunyi yang jauh lebih indah daripada mengganti tenor dengan sopran. Cobalah.

 

NYANYIAN KEHIDUPAN

AJ Tjahjoanggoro

 

Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, …….” (Luk 1:46). Demikian cuplikan awal Nyanyian Pujian Maria (=Magnificat) setelah Maria menerima kabar gembira (pemberitahuan tentang kelahiran Yesus) dari malaikat Gabri-el (=Allah adalah pahlawanku, Majalah Hidup, Deshi Ramadhani, 29 Sepetember 2009). Betapa bahagia dan tersanjung serta terpujilah Maria di antara wanita karena terpilih dan dipanggil Allah untuk mengandung dari Roh Kudus, melahirkan buah tubuh Yesus.

 

Rasa bahagia yang tak terperi karena penuh misteri kasih Allah, Maria mengungkapkan isi hatinya, bersaksi dan bersembah-sujud syukur kepada Tuhan karena keagungan dan kemuliaanNya. Ungkapan hati Maria ini spontan tak terbendung dipenuhi dengan Roh Kudus. Kata-kata yang diungkapkan dengan rendah hati sungguh bermakna dan mengandung penghayatan iman yang mendalam. Pujian Maria ini tidak cukup dan kuasa diungkapkan hanya dengan kata-kata saja. Hati Maria berbunga-bunga, penuh tanda-tanya, sekaligus terpana dan tepekur.

 

Susunan kata-kata pujian Maria ini sangat puitis dan ungkapannya sungguh dramatis. Ungkapan yang meluap dari hati terdalam tentu tak kuasa cukup dengan kata-kata saja, namun Maria mengungkapkan pujiannya dengan bersenandung dalam hati. Oleh karena itu sudah sepantasnya pujian Maria yang puitis dan dramatis (dramaturgi) ini dikatakan sebagai ’nyanyian’ pujian Maria atau lebih dikenal dengan sebutan Magnificat (= Aku mengagungkan Tuhan). Inilah sebetulnya nyanyian sejati dalam liturgi katolik.

 

Banyak contoh nyanyian liturgi katolik yang ada di dalam Kitab Suci (biblis) namun pada umumnya paling banyak dan menonjol dalam nyanyian Mazmur (150 bab) sebagai ungkapan pengalaman hidup dan kesaksian iman nabi Daud kepada Allah. Isi nyanyiannya berupa anekaragam ungkapan hati, seperti pengajaran, pujian, syukur, pertobatan, permohonan, keluh-kesah, kerinduan, ketakutan, ketenteraman, kemenangan, kesesakan, pergumulan, pengharapan, ratapan, kesetiaan, dan doa. Pada intinya semua ungkapan hati ini adalah perwujudan doa, berdialog dengan diri sendiri, sesama manusia dan Tuhan.

 

Nyanyian Mazmur yang sekarang sudah menjadi kesatuan dalam liturgi tata perayaan Ekaristi sebagai mazmur tanggapan (dulu: lagu antar bacaan), pada dasarnya sarat dengan ’seni’ liturgi. Cara membawakan mazmur bisa dengan diucapkan secara puitis (semacam deklamasi), diawali dengan solis (tertulis pada awal Mazmur ’untuk pemimpin biduan’ – misal Mzm 5), diiringi dengan permainan alat musik (misal seruling, kecapi dan semacamnya – Mzm 5,6).

 

Pada awal mulanya corak melodi pada nyanyian Mazmur (Kitab Perjanjian Lama, sebelum masehi) bersifat nir-ritmik (tanpa birama) untuk mengungkapkan syair pada setiap ayat secara resitatif. Kemudian pada perkembangan musik gereja selanjutnya sekitar abad keenam (590 – 604) sesudah masehi sejak masa penggembalaan Paus Gregorius I mulai dikenal dengan musik Gregorian. Musik gereja pada dasarnya sudah dikenal dan berkembang di kalangan umat sejak masa perjanjian lama hingga masa perjanjian baru hingga kini. Dengan kata lain tradisi musik gereja sudah berakar lama dan kaya sebagai ungkapan dan kesaksian umat beriman kepada Allah yang mahamulia dan mahakasih.

 

Peranan nyanyian dalam liturgi tata perayaan ekaristi jelas merupakan bagian kesatuan dalam sembah bakti dan puji syukur segenap umat beriman kepada Allah melalui perjamuan kurban kasih Kristus. Sikap bernyanyi dengan hati dalam iman merupakan sikap dasar utama pelayanan kasih bagi segenap umat dan seluruh petugas liturgi, termasuk musik liturgi khususnya dalam perayaan Ekaristi. Para petugas musik liturgi seyogyanya menyanyikan madah pujian dan syukur hanya kepada Tuhan dengan suara yang hidup (viva voce), terungkap murni dari hati yang beriman. Dengan demikian para petugas musik liturgi bersama segenap umat menyanyikan dan merayakan kehidupan yang bersumber pada kurban kasih Kristus yang sejati dan abadi dalam perayaan Ekaristi.

SYAIR atau MELODI

AJ Tjahjoanggoro

 

Dalam suasana menjelang perayaan Natal, para aktivis koor (anggota, dirigen, organis) yang bertugas biasanya sibuk berlatih untuk menguasai lagu-lagu Misa Natal yang sudah dipilih sesuai dengan makna liturgi. Tak terkecuali pada Misa Minggu Biasa atau Hari Raya, para aktivis koor juga berupaya maksimal untuk menguasai lagu-lagu Misa dengan sebaik-baiknya.

Tak jarang pula mengingat lagu ‘spesial’ (baru dan tingkat kesulitan cukup tinggi) yang dipilih cukup banyak atau belum dikuasai penuh oleh anggota koor karena kemampuan yang relatif terbatas, sedangkan waktu latihan dan jadwal tugas sudah mendesak, para aktivis koor berjuang berlatih mati-matian sampai bisa. Apa boleh buat, apapun hasil latihannya para aktivis koor berusaha menyanyikan lagu tersebut dengan sebaik-baiknya.

Syukur, minimal jika ketika menyanyikan lagu pada saat Misa tidak salah atau bahkan lebih baik daripada latihannya. Sebaliknya, tidak dapat dipungkiri pula, bila latihannya pas-pasan, para aktivis koor akhirnya kurang merasa puas karena pada saat menyanyikan lagu Misa kurang percaya diri dan pesimis sehingga mutu vokal menurun dibandingkan pada saat latihan koor. Akibatnya, suasana Misa menjadi kurang khidmat dan agung.

Hikmah di balik pasang-surut perjuangan para aktivis koor untuk menyanyikan lagu Misa pada hakikatnya hanya dua kunci utama, yakni menguasai syair dan melodi. Mana yang lebih diutamakan: menguasai syair atau melodi dulu? Spontan setiap aktivis koor biasanya pasti menjawab menguasai melodi dulu karena kunci pokok lagu ada pada melodinya sedangkan syair relatif jauh lebih mudah untuk dikuasai apalagi hanya dalam bahasa Indonesia.

Reaksi spontan semacam itu wajar dan manusiawi. Lagu memang terutama digubah dengan alunan melodi sehingga dikatakan sebagai ‘nyanyian’. Sementara syair (puisi) yang dilantunkan biasanya disebut deklamasi. Jadi, pada prinsipnya menyanyikan lagu berarti melantunkan melodi seperti instrumentalia (musik tanpa kata/syair). Lalu, bagaimana menyanyikan lagu dengan melodi dan syair? Jika melodi lebih penting daripada syair lagu, apakah berarti makna syair lagu gereja yang dilandasi dengan makna biblis dan teologis bisa diabaikan?

Memang unsur melodi pada lagu juga memiliki makna suara surgawi yang sama penting dengan isi dan makna syair lagu yang didaraskan. Bukan menguasai melodi dulu lalu syairnya, atau sebaliknya. Namun baik melodi dan syair sama-sama penting. Persoalannya, secara tidak disadari para aktivis koor dihinggapi ilusi atau mitos (persepsi yang salah) bahwa melodi lagu adalah segala-galanya. Akibatnya, lagu yang dipilih biasanya melodinya indah dan iramanya hidup. Padahal lagu yang mungkin dinilai kurang ‘enak’ melodinya bukan karena terutama komposisi lagu yang kurang berbobot namun cara membawakan lagu yang kurang tepat.

Perlu diingat, memilih lagu Misa bukan soal selera dan sekedar ‘hiburan’ namun terpenting dan terutama adalah mendalami dan menghayati makna liturgi pada setiap lagu minimal yang sudah diakui gereja katolik (misal Puji Syukur atau Madah Bakti). Melodi dan syair lagu liturgi merupakan dua sejoli yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan padu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan hanya bagi kemuliaan Allah.

Berlatih lagu Misa seyogyanya bukan sekedar kejar tayang dan unjuk gigi namun menguasai lagu sederhana sekalipun (sering dan biasa dinyanyikan) yang sesuai dengan makna dan masa liturgi, serta dipadukan dengan syair lagu sehingga menjadi ‘doa’ yang semerbak harum mewangi meski dengan hati remuk redam. Konkritnya secara praktis, setiap melatih melodi lagu seyogyanya disisipkan pula latihan pengucapan dan penghayatan syair sekaligus sebagai renungan dan santapan rohani. Dengan demikian para aktivis koor tidak sekedar dibekali keterampilan teknik musikal/vokal namun juga spiritualitas hidup rohani yang bersumber dari lagu liturgi.

Hal menakjubkan yang dapat kita renungkan bersama. Lagu Malam Kudus yang syairnya digubah oleh Joseph Mohr (imam) pada tahun 1816 di Austria. Lalu, melodinya digubah oleh Franz Xaver Gruber dengan menggunakan gitar karena organ di kapel rusak. Dinyanyikan pertama kali di kapel Nikholas-Kirche, Oberndorf Austria pada tanggal 24 Desember 1818. Dipopulerkan oleh John Freeman Young (uskup kedua Florida) pada tahun 1859 dengan menerjemahkan syair lagu dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris yang kita nyanyikan hingga kini dengan terjemahan bahasa Indonesia.

Senandung lagu Malam Kudus yang syahdu dan menyejukkan hati digubah dengan alunan melodi dan untaian syair yang sangat sederhana namun penuh makna surgawi. Sungguh mempesona dan hingga kini lagu Malam Kudus dikumandangkan oleh segenap umat kristiani di seluruh penjuru dunia. Semua terkesima dan terhipnotis oleh lagu Malam Kudus lantaran melodi dan syair surgawi.

Selamat menyambut bayi kudus Yesus Sang Juru Selamat dalam dekapan hangat penuh kasih bunda Maria dan bapa Yosef dengan senandung hati yang sunyi nan suci. Salam Bahagia Natal dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2011. Rahmat dan kasih Tuhan melimpah bagi kita semua. Amin.

BILA ‘MENDADAK MENJADI DIRIGEN’.

Anton Teguh

Sudah kesekian kali saya mendadak menjadi dirigen umat dalam misa kudus di gereja paroki saya. Itu terjadi di hari Sabtu sore atau Minggu sore saat tidak ada kor yang bertugas. Meskipun kadang-kadang mengomeli diri sendiri karena ‘berada pada waktu yang tidak tepat’ saya toh tidak dapat menolak tugas mulia ini. Apalagi, seperti biasanya, Pak Lukas, koster gereja paroki saya itu sudah mencegat saya sambil memohon-mohon. Melihat mimik wajahnya yang memelas, saya tidak kuasa menolaknya.
Mengapa tidak ada dirigen ? Itulah pertanyaan saya kepada Pak Lukas. Jawabannya bermacam-macam. “Dirigennya tidak datang karena sakit…” atau “Tadi baru saja telepon anaknya rewel”, atau “Hujan…” dan sebagainya. Apapun alasannya tetap saya terima. Entah mengapa kadang-kadang ketiadaan dirigen juga berarti ketiadaan organis. Atau kalau ada organis gantian organnya yang ‘ngadat’. Jadi dua-tiga kali saya bertugas ‘mendadak menjadi dirigen’ tanpa bantuan organis. Jadinya ‘garingan’.
Persiapan Batin
Karena datang lebih awal, saya biasanya mengawali dengan menenangkan diri sebelum semua kegiatan lain. Itu saya anggap perlu karena mendapatkan tugas mendadak pasti membuat batin tidak tenang. Yang bisa dilakukan dalam waktu pendek adalah ‘duduk tenang dan berdoa’. Sambil menata napas, proses penenangan diri berlangsung tiga sampai lima menit .
Menyiapkan Nyanyian.
Segera setelah batin tenang, saya mulai memilih lagu. Cara kilat yang biasa saya pakai adalah menanyakan kepada ‘bawah sadar’ apakah nyanyian yang pas. Pas buat saya dan pas untuk umat yang hadir. Biasanya, lewat proses ‘self hypnosis ‘ ini ‘bawah sadar’ akan ‘menjawab’ nyanyian apa saja yang perlu dinyanyikan. Tentu saja, nyanyian yang dibawakan sesuai dengan kalender liturgi yang berlaku.
Nyanyian yang pertama saya siapkan adalah lagu pembukaan dan lagu-lagu ‘ordinarium’. Pasalnya nyanyian tersebut akan dinyanyikan di awal misa kudus. Sementara-lagu-lagu lainnya bisa disiapkan ‘sambil jalan’.
Tidak boleh ditinggalkan adalah menyiapkan mazmur tanggapan. Paling tidak menyanyikan refrennya saja yang harus dikuasai secara singkat. Apabila pemazmurnya juga tidak bertugas – dan ini pernah terjadi- saya pun merangkap menjadi pemazmur. Maka, mau tidak mau selain refren, ayat-ayat mazmur pun harus dikuasai dengan cepat.
Tidak seluruh hal mendadak mengagetkan. Kadang-kadang saya beruntung. Itu terjadi bila organis telah pula menyiapkan nyanyian hasil rundingannya dengan dirigen yang batal bertugas. Untuk kasus demikian, biasanya saya hanya menyesuaikan beberapa lagu untuk diganti.

Berunding dengan Organis
Bila organis sudah kita kenal dan terbiasa bersama-sama bertugas, akan mudah bagi kita untuk menyatukan ‘chemistry’ satu sama lain. Tetapi bilamana tidak biasa, waktu yang sempit harus dimanfaatkan untuk berunding dengan tenang. Terlebih apabila beberapa nyanyian yang saya tawarkan tidak disetujui oleh organis. Untuk itu biasanya saya mengalah dengan menyilahkan organis memilihkan lagu.
Kalau waktu masih memungkinkan, saya akan berunding hal ‘intro’. Karena tanpa persiapkan, maka biasanya saya meminta intro sederhana untuk semua lagu. Intro sederhana yang saya maksud adalah :
1. Membunyikan 8 birama awalan sebuah nyanyian. Atau gabungan antara 4 birama awalan lagu dan 4 birama akhir lagu.
2. Intro harus diakhiri dengan ‘do’ untuk lagu ‘mayor’ dan ‘la’ untuk lagu ‘minor’.
Bila Tanpa Organis
Bagaimana bila mendadak dirigen tanpa bantuan organis alias ‘garingan’ ? Hal pertama yang biasa saya lakukan adalah mencari nada dasar sendiri. Cara yang paling mudah adalah mencari nada tertinggi dan terendah dalam nyanyian yang akan dinyanyikan. Dengan cara ‘humming’ atau ‘mendengung’ nyanyian tersebut saya coba ‘sesaat sebelum’ lagu tersebut dinyanyikan.
Menjadikan Umat ‘Kor Besar’
Karena tidak ada kor, maka umat perlu dilibatkan menjadi sebuah ‘paduan suara besar’. Maka pilihan lagu sangat menentukan. Lagu-lagu yang dipilih hendaknya yang mudah dan dikuasai umat yang hadir dalam misa kudus. Kemudian menyanyikannya dengan seindah-indahnya agar umat ikut berpartisipasi. Bilamana umat berpartisipasi maka sebuah ‘kor besar’ akan terjadilah.
Akhirnya, bila misa kudus usai pantaslah kita bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam perayaan ekaristi. Juga karena ‘mendadak menjadi dirigen’ sudah usai. Meskipun tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi, tidak lupa menyisipkan doa dan harapan agar di kemudian hari teman-teman dirigen yang bertugas tidak absen.
Selamat Natal 2010 dan Tahun Baru 2011.

LAGU ORDINARIUM dan PROPRIUM

Oleh A.J Tjahjoanggoro

 

Teristimewa dalam perayaan ekaristi setiap hari minggu, hampir semua bagian misa dinyanyikan. Diharapkan suasana misa menjadi meriah namun tetap khidmat. Ada lima jenis lagu dalam misa, yaitu: (1) Aklamasi, (2) Nyanyian Perarakan, (3) Mazmur Tanggapan, (4) Nyanyian Ordinarium (baru), dan (5) Nyanyian Tambahan (bdk. Music in Catholic Worship [Musik dalam Ibadat Katolik], Spektrum 1, XXVI, 1982: hlm. 27-35).

Aktivis musik liturgi/gereja pada umumnya mengenal dua jenis lagu dalam misa, yakni lagu Ordinarium dan lagu Proprium. Bila dibandingkan dengan pembagian lima jenis lagu dalam misa tersebut, lagu Ordinarium selaras dengan butir 4 yang meliputi: lagu Kyrie (Tuhan Kasihanilah Kami), Gloria (Kemuliaan), Credo (Aku Percaya), Pater Noster (Bapa Kami), Agnus Dei (Anak Domba Allah) kecuali lagu Sanctus (Kudus) yang termasuk lagu Aklamasi.

Sementara itu lagu Proprium termasuk pada jenis lagu dalam misa butir 2 dan 5. Nyanyian Perarakan termasuk lagu Perarakan Masuk (Pembukaan) dan Perarakan Komuni (Menyambut Komuni). Nyanyian Tambahan meliputi lagu Persiapan Persembahan (perarakan persembahan), Madah Syukur (sesudah komuni), Perarakan Keluar (Penutup), Litani (jika ada). Nyanyian tambahan bersifat fakultatif, dalam arti bisa dinyanyikan bisa tidak.

Berdasarkan pada pembagian lima jenis lagu dalam misa tersebut tampak jelas peranan tiap lagu dalam misa sehingga tidak asal memilih lagu dan bernyanyi saja namun benar-benar ‘menyanyikan misa’. Setiap misa memiliki tema tertentu sesuai dengan kalender liturgi dengan intensi khusus. Prinsip dari pembagian lima jenis lagu dalam misa tersebut menganut azas bahwa fungsi nyanyian itu sendiri dimengerti secara benar, tidak sekedar mengisi kekosongan atau menghiasi antara bagian Misa.

Para petugas musik liturgi memegang peranan penting bersama petugas liturgi lainnya. Dirigen, pemazmur, organis dan koor merupakan salah-satu kelompok bagian dari petugas liturgi. Musik liturgi juga merupakan bagian dari liturgi perayaan ekaristi. Konsekuensinya, para petugas musik liturgi seyogyanya bekerjasama dengan petugas liturgi lainnya, terutama dengan imam sebagai alter Christus (wakil Kristus) yang memimpin seluruh tata perayaan ekaristi. Petugas musik liturgi bertugas untuk melayani umat, sekaligus sebagai umat yang mengikuti misa yang dipimpin oleh Romo.

Berdasarkan pada prinsip dasar tersebut, para petugas musik liturgi disarankan untuk memahami hakikat dasar liturgi guna dapat menerapkan sikap berliturgi yang benar dan menghayati liturgi secara lebih mendalam melalui pemahaman peranan lagu dan cara menyanyikan. Misa dengan nyanyian memang terasa lebih semarak, khidmat dan agung. Namun perlu diwaspadai juga bahwa tidak setiap lagu pantas dan tepat dinyanyikan dalam misa apalagi tidak ditunjang dengan teknik bernyanyi yang baik dan benar. Jika demikian, nyanyian dalam misa dapat mengurangi kekhidmatan.

Lagu Ordinarium seyogyanya dipilih dari lagu-lagu yang sudah dikenal umat kecuali pada misa hari raya. Petugas koor diharapkan dapat memberikan teladan menyanyikan lagu Ordinarium dengan tempo dan nada yang tepat sehingga dapat mengajak umat bernyanyi dengan kompak dan serempak. Cukup menyanyikan lagu Ordinarium dengan satu suara (cantus firmus/lagu pokok) sekalipun akan jauh lebih khidmat jika dinyanyikan dengan semangat daripada aransemen dua suara/lebih tapi sumbang menyanyikannya.

Demikian pula halnya dengan lagu Proprium, tidak perlu dipaksakan harus dinyanyikan semua. Mohon dipertimbangkan dan disesuaikan dengan kemampuan anggota koor dan umat. Ada kecenderungan koor menyanyikan lagu yang tidak/belum dikenal umat. Sekali waktu kebijakan tesebut dapat dikatakan tepat jika dimaksudkan sembari mengenalkan lagu ‘baru’ bagi umat. Namun pada prinsipnya misa adalah milik seluruh umat sehingga segenap umat termasuk petugas musik liturgi diharapkan juga ikut berpartisipasi ‘aktif’ dengan bernyanyi bersama atau ‘mendengarkan’ lagu (menyanyi dalam hati) yang dinyanyikan oleh koor. Idealnya, seluruh lagu dalam misa bisa dinyanyikan bersama oleh seluruh umat, atau minimal selang-seling (bergantian) antara koor dan umat, dan (mohon maaf) bukan dikuasai sendiri oleh koor.

Selamat menyanyikan misa bersama imam dan segenap umat! Lagu pujian hanya dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan Raja Semesta Alam. Amin.

 

SPBU tidak melayani DIRIGEN

Dalam perjalanan wisata nostalgia bersama orangtua di Kalimantan Barat ada pemandangan menarik.

Di sebuah SPBU Pertamina lepas kota Singkawang ibu saya melihat tulisan aneh. “Lho ‘pom bensin’ ini tidak menerima dirigen”. “Masa ??” tanya saya. Akan tetapi saya nekat masuk untuk mengisi premium. Ah… ternyata bisa juga. Dengan ramah petugas perempuan yang melayani, mengisi sesuai harga.
Ibu saya juga benar, karena menjelang masuk ke SPBU tersebut tertulis larangan yang berbunyi “TIDAK MELAYANI DIRIGEN”.

Mungkin karena tidak mengaku kalau saya juga dirigen maka saya dilayani. Atau petugasnya kurang berbahasaindonesia dengan benar ? Ataukah yang dimaksud ‘jirigen’ atau ‘curigen’ plastik?

SPBU PERTAMINA di SINGKAWANG tidak melayani 'DIRIGEN'

 

Gregorian? Puji Syukur!

Oleh : Albert Wibisono

Lagu Gregorian memang sedang naik daun. Banyak yang minta saran ke saya, bagaimana cara memasyarakatkan (kembali) lagu Gregorian. Jawaban saya mungkin sama sekali tidak diduga oleh si penanya, “Sediakan Puji Syukur di bangku-bangku gereja.”

Sebagian dari kita mungkin belum sadar bahwa di Puji Syukur (PS) ada cukup banyak lagu Gregorian. Kalau saya tidak salah, setidaknya ada 32 lagu Gregorian dalam Bahasa Latin. Nah, kalau PS disediakan di bangku-bangku gereja, umat dapat diajak menyanyi lagu Gregorian yang paling dasar yang ada di dalamnya.

Untuk permulaan, kita bisa mulai dari Ordinarium (Tuhan Kasihanilah, Kemuliaan, Kudus dan Anak Domba Allah). Dalam PS ada empat macam ordinarium Gregorian, berdasarkan masa penggunaannya. Ada yang khusus untuk Masa Adven dan Prapaskah (339, dst.) dan Paskah (340, dst.). Ada Ordinarium De Angelis (342, dst.) yang dapat digunakan untuk masa selain Adven, Prapaskah dan Paskah. Yang terakhir, ada Ordinarium khusus untuk Misa Arwah (344, dst.). Mungkin kita sudah terbiasa menyanyikan Ordinarium Adven dan Prapaskah, atau bahkan De Angelis. Nah, kenapa tidak mencoba Ordinarium Paskah misalnya? Ordinarium ini dipakai mulai Hari Raya Paskah sampai dengan Pentakosta.

Lagi, yang sangat mendasar tentunya adalah Doa Bapa Kami. Yang paling umum adalah Pater Noster dengan nomor 402, yang selalu dinyanyikan di Vatikan. Selain itu ada juga versi Pater Noster yang lain (403), yang mungkin tidak sepopuler yang pertama. Berikutnya adalah Aku Percaya. Ada Credo III (374) yang sudah cukup akrab di telinga sebagian umat. Nah, kalau umat sudah bisa menyanyikan semua Ordinarium, Pater Noster dan Credo, kita sudah membuat kemajuan yang bagus sekali. Saya yakin Paus akan senang sekali mendengar umat Katolik Indonesia bisa menyanyi lagu-lagu pokok ini.

Kita masih bicara lagu Gregorian untuk Misa. Pada hari-hari Minggu atau Hari Raya tertentu, Ritus Tobat yang biasa (Tuhan Kasihanilah Kami) dapat digantikan dengan Ritus Pemercikan Air Suci. Ada lagu yang khusus untuk ritus ini, Asperges Me (233) untuk selain Masa Paskah, atau Vidi Aquam (234) untuk Masa Paskah.

Masih dalam Misa, pada Hari Minggu Paskah, kita menyanyikan suatu madah yang disebut Sekuensia setelah Alleluia (bukan sebelumnya, bdk. PUMR 64). Judulnya adalah Victimae Paschali Laudes (518). Sekuensia ini wajib sifatnya. Ada lagi satu Sekuensia wajib yang harus dinyanyikan, pada Hari Raya Pentakosta. Judul aslinya Veni Sancte Spiritus. Sayangnya di PS hanya ada versi Bahasa Indonesianya, Ya Roh Kudus Datanglah (569). Versi Latin aslinya dapat ditemukan dengan mudah di internet. Google saja Veni Sancte Spiritus, lalu nyanyikan dengan not yang tersedia di PS 569.

Berikutnya, saya yakin banyak sekali umat yang bisa menyanyikan lagu Mari Kita Memadahkan (501). Ini adalah “lagu wajib” untuk perarakan Sakramen Mahakudus. Versi Latinnya adalah Pange Lingua (502). Dapatlah dicoba untuk lain kali menyanyikan versi Latin ini, dengan not yang sama dengan Mari Kita Memadahkan tadi. Sekedar catatan, Bait 5-6 baru dinyanyikan saat Sakramen Mahakudus sampai di tempat pentakhtaan. Selama masih dalam perjalanan, Bait 1-4 lah yang dinyanyikan, bilamana perlu diulang terus menerus.

Lagi, saya juga yakin cukup banyak umat yang bisa menyanyikan Jika Ada Cinta Kasih (498). Versi Latinnya adalah Ubi Caritas Est Vera (499). Juga, Datanglah Ya Roh Pencipta (565). Versi Latinnya adalah Veni Creator Spiritus (566). Sama persis notnya. Seharusnya tidak sulit jika sekali-sekali versi Latinnya yang dinyanyikan. Umat pasti bisa mengikutinya, tentunya bila disediakan PS di bangku-bangku gereja. Ubi Caritas dinyanyikan saat perarakan persembahan pada Hari Kamis Putih. Selain itu, lagu ini juga bisa dijadikan lagu Komuni, sepanjang tahun. Veni Creator bisa dinyanyikan hampir pada setiap kesempatan di mana kita mengharapkan kedatangan Roh Kudus.

Tidak lengkap rasanya bila kita belum membahas lagu untuk Maria. Di PS ada banyak lagu Gregorian untuk Maria, masing-masing ada masa pemakaiannya yang sesuai. Ada Alma Redemptoris Mater (627; Adven-Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari), Ave Regina Caelorum (626; Pasca Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah-Pekan Suci), Regina Caeli (624; Paskah-HR Tritunggal Mahakudus) dan Salve Regina (623; Pasca HR Tritunggal Mahakudus-Sebelum Adven). Keempat Antifon Maria ini sungguh cocok dinyanyikan bersama saat Doa Rosario.

Masih ada lagi yang lain, termasuk Te Deum (669), madah syukur yang dapat dinyanyikan setelah komuni, tepatnya usai Doa Sesudah Komuni (umat duduk kembali). Madah ini wajib dinyanyikan saat tahbisan uskup, imam dan diakon. Satu yang mungkin agak kurang populer adalah Popule Meus (506). Yang ini untuk penghormatan salib pada hari Jumat Agung.

Akhirnya, ada Requiem (708) yang adalah Lagu Pembuka untuk Misa Arwah, dan juga In Paradisum (709), dengan teks yang sangat indah, yang cocok untuk bagian akhir Misa Arwah.

Semoga uraian di atas cukup untuk meyakinkan Anda untuk mengusahakan penyediaan Puji Syukur di bangku-bangku gereja. Sekali lagi, Puji Syukur, bukan Kitab Suci. Sejauh yang saya tahu, di Roma tidak ada Kitab Suci di bangku umat. Dalam gereja Katolik, maksud saya.

Sebagai penutup, baiklah kalau saya mengutip Paus Benediktus XVI, “Akhirnya, dengan tetap menghargai aneka gaya dan beragam tradisi yang sangat berharga, saya mendambakan, sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh para Bapa Sinode, agar nyanyian Gregorian benar-benar dihargai dan digunakan sebagai nyanyian yang sesuai untuk liturgi Romawi.” (Sacramentum Caritatis 42)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.